12/02/2011

Bikin film itu mudah!

RahmanCyber.NET | Film - Sebenarnya ini adalah artikel lama sekali.. bahkan mungkin saya sendiri sempat lupa dulu pernah melakukan maping untuk pembelajaran..

 

Tetapi ketika saya dalam proses perbaikan artikel yang ada di RahmanCyber.NET ini, saya menemui sebuah maping pembelajaran di masa lalu... Ya! kalian bisa melihat tanggal publikasinya.

 

Ini benar benar dari masa lalu.. 


Waktu itu saya memang sedang getol getolnya belajar tentang dunia perfilman.. berharap untuk dapat bekerja di layar kaca seperti production house yang ada di TV, hehe

 

Tapi.. takdir berkata lain.. walaupun masih sama di dunia broadcasting.. tetapi ini broadcasting kampus... sebuah kampus yang ada di semarang.

 

Lalu aku tulislah beberapa hal yang aku pelajarin di sini..

 

Siapa tau entar saya membutuhkan.. eh, saat ini ketemu ama mapping pembelajarannya.. hehe, 

 

Lalu kenapa dulu saya buat HEADLINE "Bikin FILM itu Mudah?"

 

Disini bukan mudah dalam artian GAMPANG.. atau sesuatu yang remeh..


Nyatanya jika orangnya tidak memiliki Skill di bidang ini.. maka ia pun akan kesulitan..


Mudah disini dalam artian.. "Sebenarnya kalo dilakukan itu mudah... Yang Sulit adalah jika tidak dilakukan dan hanya menjadi angan angan"


Tetapi perlu digaris bawahi.. Untuk berat atau ringannya.. jelas.. enggak ada pekerjaan yang ringan sob, jelas berat..  'itu bagian dari wang sinawang' maka jangan pernah meremehkan pekerjaan orang.. kalo kamu melihat sebuah pekerjaan itu seperti ringan, itu karena kamu tidak berada dalam pekerjaan itu, kamu berada di sisi yang melihat pekerjaan itu.


Makannya " Hal ini berat ketika hanya dilakukan sendirian, saya salut dengan seniman yang mereka menghasilkan sebuah film sendirian awalnya, ya karena keterbatasan modal, jadi hanya berbekal tripod sebagai stand kameranya... 

udah nulis naskah, aktor, pengaturan kamera, lighting, pengaturan latar, editing.. ini bertalenta sekali dan saya paham hal itu sangatlah berat "


Seperti gambar dibawah ini..


Ini scenery / Pemandangan yang cocok untuk film kan?





Prinsip Penggunaan Bahasa Film

 

Pada prinsipnya komunikasi yang tercipta dalam seni film menunjuk pada satu arah yakni kepada penonton, jadi keberhasilan sebuah film saat para penonton dapat menerima dengan baik informasi yang ada pada film dan membuatnya tertarik. Teknik penyampaian informasi tersebut yang biasa disebut bahasa film.
Ada 3 faktor yang menjadi pokok atau prinsip penting dalam bahasa film. Yakni: gambar, suara dan keterbatasan waktu

 


Gambar/Visual

 

 

Pada bagian ini merupakan faktor pembeda sebuah film dengan drama radio. Mengapa? Karna faktor ini merupakan titik interest atau faktor yang membuat penonton tertarik untuk melihat suatu film. Maka ketika film ada cacat atau set yang jelek terkadang penonton langsung beranggapan film itu jelek dan tak layak tonton,begitupun sebaliknya. Nah maka tak jarang pemain/pemeran sangat menentukan keberhasilan sebuah film disamping, set properti,set lighting, camera. Dan dalam post produksi, tim editinglah yang menjadi peran utama dalam membuat rangkaian take sesuai skenario ke bentuk jadi. Maka untuk editing ini tidak sembarangan edit bila ingin hasil baik.

 


Suara/Audio

 

disamping video/gambar tadi,faktor terpenting kedua yaitu suara/audio sangat berperan juga. Ketika suara/audio rusak maka akan merusak keseluruhan image film dimata penonton. Kalau sedikit aja ga masalah masih dapat ditutupi oleh video.

 

Maka memang penting untuk melakukan monitoring suara dengan headphone, karena untuk mengantisipasi jika ada gangguan ata suara yang ternyata malah over.

 

"Lebih baik suara yang agak pelan ketimbang suara yang over... kenapa? karena suara yang sudah terlalu over itu walaupun di normalize tetap saja suaranya jelek, seperti pecah... " - Pengalaman Probadi sebagai Editor Video.  

Karena suara yang kecil, asalkan tidak terlalu over juga kecilnya... itu bisa di normalize, kalo kecil banget.. maka bisa terganggu dengan noise..


Jadi kalo suaranya di normalize, maka noisenya juga ikut, sedangkan jika noisenya dihilangkan dengan cara noise reduction ataupun denoise, maka hasilnya pun tidak maksimal..


Sehingga inilah mengapa monitoring suara itu perlu ketika rekaman, untuk memastikan suaranya itu baik, bahkan untuk nanti proses Editing.


 


Keterbatasan Waktu / Limited time

 

 

Keterbatasan waktu ini sebenarnya berkaitan dengan durasi, jadi ini merupakan faktor yang membatasi sebuah film, artinya informasi yang penting saja yang diberikan. 

 

Hal ini juga berkaitan dengan konsentrasi menonton, hal ini yang terkadang melahirkan pertanyaan.. kenapa durasi Film dalam Movie maupun per episode itu biasanya tidak lebih dari 2 jam, bahkan lebih pendek dari itu.


Lalu apakah boleh film lebih dari 2 jam? ya boleh boleh aja.. bahkan beberapa film pun ada yang sengaja dibuat Sutradara dengan durasi 24 Jam! Betah nggak tuh nontonnya..?!  contohnya film 'The Clock' 24 jam.


Ini sama saja dengan marathon nonton film kan? 


Tiap orang memiliki tingkat kebosanan yang berbeda beda, sebenarnya durasi segitu juga durasi yang kurang sehat bagi penonton jika ditayangkan di bioskop, karena mata akan lelah dan jelas konsentrasi terhadap film pun tidak maksimal.


Maka dari itu, kenapa kok durasinya kalo buat film satu episode  atau 1 movie itu tidak lebih dari 2 jam itu diperkirakan rata rata orang bisa konsentrasi dan betah, jika modelnya per episode.. kalo ditempatkan seperti Youtube, Vimeo atau media media yang bisa diputar kapan saja, jelas kalo mau nambah durasi tonton atau nambah episode film, itu terserah kuat tidaknya orang tersebut..


Karena tiap orang memiliki kapasitas yang berbeda beda.. tetapi durasi tersebut sudah dapat membuat penonton menyimpulkan Rating sebuah film yang telah ditontonnya tersebut, perihal alur, percakapan pemain, latar, cut to cutnya, sisi kedalaman cerita dan lainnya yang dapat menyimpulkan sebuah film baik atau buruk.


Benarkan teori ini jika saya salah.

 

 

 

Seni Memahami Karakter Penonton

 

 

Hal ini berdasar pada segmentasi penonton, jadi sebenarnya seni memahami karakter ini penting, karena menjadi cikal bakal film mau dibuat dengan bungkusan seperti apa.

 

Film itu merupakan komunikasi One Way Traffic atau Satu arah..

 

Kan tidak mungkin di Bioskop penonton bicara dengan pemain film yang ada di layar bioskop dan mengatakan apa yang dia lakukan salah, seharusnya gini...

 

Kan Enggak Mungkin...

 

Jadi disinilah peran sutradara dalam men direct!

 

Penonton jelas hanya bisa berkomentar di akhir / ketika selesai nonton filmnya.. 

 

Kan tidak mungkin penonton berkomentar padahal belum selesai nonton filmnya, alih ali mereka malah terjebak dalam plot twst karna terlalu dini menyimpulkan..

 

Jika seni memahami karakter penonton ini berhasi, bukan tidak mungkin filmnya bakalan di acungin jempol, karena sasarannya tepat.

 

Bahkan jika salah, film tersebut bisa dihujani hujatan hujatan yang mungkin sulit untuk di kontrol, karena benar benar mengerikan kalo warga net sudah berkicau, cepat sekali menyebar.. apalagi jika itu Influencer.

 

 

 

 

 


Kemampuan Menduga

 

Ini seperti yang sedikit saya singgung diatas, yaitu fungsinya plot twist, yaitu untuk memainkan Kemampuan Menduga dari Penonton.

 

Ya ini sangat mengasyikkan sebenarnya sebagai penulis naskah maupun sutradara sendiri, karena dengan memainkan hal ini, kadang film sendiri bisa saja terukir di ingatan penonton seperti halnya ukiran batu..

 

Tak bisa dipungkiri lagi, kemampuan menduga adegan selanjutnya itu merupakan kemampuan yang sudah umum.. karena memang seperti itulah manusia.. suka menduga duga..

 

Eh, ternyata terjebak dalam plot twist...

 

Bisa jadi penonton itu gregetannn abis.. hehe

 

 


Indentifikasi

 

 

Kita tak bisa pungkiri, kenapa dalam sebuah film itu ada yang namanya tokoh utama, ya! tokoh utama itu merupakan tokoh yang memiliki karakter yang kuat..

 

Jadi memang tidak main main dalam menentukan tokoh utama.

 

Biasanya tokoh utama itu adalah protagonis, atau karakter yang baik, tetapi dalam film tertentu, ada juga tokoh utamanya malah karakter yang jahat.. hal ini berkaitan juga dengan seni memahami karakter penonton, jadi target utamanya nya yang seperti apa dulu nih.. 


Tetapi keduanya itu baik atau buruk sebenarnya ada hal yang sama "yaitu keduanya memiliki kemampuan yang hebat, kemampuan unik" 


Coba bayangkan jika tokoh utama itu tidak memiliki daya tarik, hal ini bakalan mempengaruhi performa dari film di mata penonton...


Karena penonton itu biasanya mereka mengidentifikasi dirinya atau terbawa secara emosional kepada tokoh utama tersebut.. jadi seolah olah, mereka menjadi tokoh tersebut.


Maka kadang penonton kan suka nangis nangis sendiri kan ketika tokoh utama ditimpa kesedihan dan ikut merasakan ketegangan ketika tokoh utama berhadapan dengan musuh.


Nah disini pembuat film bisa memainkan hal ini... jadi coba bayangkan jika identifikasi emosional dari penonton itu dipermainkan oleh pemain utama? hehe, greeegetann dan itulah karena gregetann penonton itu bisa aja menjadi sangat kagum dengan film tersebut.






Mekanisme Produksi

 

Ketika berbicara mengenai mekanisme produksi, hal ini berkaitan dengan alur produksi dar pra produksi sampai post produksi. Kira kira gambarannya sebagai berikut ini. 




Mengolah Ide Cerita (Draft Awal)

 

Pada tahapan ini kita mengolah ide cerita kedalam sebuah skenario agar dapat dipahami oleh kru produksi nantinya dan agar arahnya jelas, tidak melenceng dari ide dasar, serta kerangka ceritanya terkunci tidak melebar kemana mana.

 

 

Skenario

 

Setelah draft awal disetujui produser atau yang memiayai proyek atau yang bertanggung jawab penuh perihal produksi film, karena memang berhasil tidaknya film akan berdampak langsung kepada produser ( bicara rugi dan untung ) jika berhasil ya untung, jika gagal ya.. udah berarti rugi..

 

setelah produser menyetujui berarti draft tadi menjadi draft final.

 

hal tersebut bisa dilakukan beberapa kali pertemuan atau hanya sekali aja cukup dan biasanya dilakukan oleh produser, sutradara, dan penulis skenario.

 

Tujuannya sebenarnya adalah untuk menyesuaikan konsep produksi dengan budget yang dimiliki, serta durasi waktunya dan beberapa kemungkinan lain yang menyangkut kebutuhan dalam tahapan produksi nantinya..

 

Sehingga dari hasil inilah, skenario mulai disusun oleh penulis skenario.

 

 


Menyusun Kru Produksi

 

Tahap selanjutnya adalah menyusun kru produksi sesuai dengan yang telah dirundingkan tadi, bisa jadi dalam sebuah susunan kru produksi beberapa tugas bisa dirangkap untuk menyesuaikan budget. 

Seperti yang saya katakan diawal tadi, bahkan satu orang pun ada yang dapat merangkap semua posisi, tentu hal ini berpengaruh juga kepada target pemutaran film ya...

Berpengaruh juga pada kualitas, karena memang berat!

 

Jadi kalo untuk skala bioskop ya butuh kru bukan single fighter, hehe.. karena itu berkaitan dengan waktu tayang.. jadi enggak boleh molor karena ini berkaitan dengan marketing..

 

Coba bayangkan tim dari pihak publisher udah promosi sana sini, marketing sana sini.. tentang tanggal yang berpengaruh juga pada penjualan tiket.. eh ternyata produksi molor karena kesel atau kelelahan dalam produksi akibat rangkap merangkap...

 

Ya bisa rugi enggak cuman jutaan bro.. miliaran..

 

Jadi inilah skala produksi..

 

Beda dengan kalo Youtube yang notabene merupakan channel pribadi dan tidak menuntut waktu harus tayang ( walau ini penting ketika channel udah gede dan banyak penonton.. tapi kalo kamu single fighter.. tentu penonton kamu bakalan memahami.. ) dan jikalaupun molor ya, enggak terlalu rugi..

seperti skala professional tadi.

 

 

 


Melengkapi Formulir Produksi

 

Formulir produksi ini sebenarnya seperti halnya menghasilkan sebuah SOP atau pembagian tugas secara tertulis.. sehingga kru itu enggak melenceng kesana kesini.. tiap orang memiliki peranan yang jelas dan tugas yang jelas.

 

Ini penting, karena jelas seseorang akan lebih maksimal dalam bekerja ketika ia sudah diberikan catatan apa yang harus ia kerjakan... tanggung jawab apa yang di emban..

 

jadi inilah pedoman produksi nantinya.

 

 


Casting Pemeran

 

Dalam sebuah film itu dibutuhkan tokoh yang benar benar sesuai dengan apa yang digambarkan di skenario.. tiap orang memiliki karakter yang berbeda beda, kemampuan dalam pembawaan pun menjadi perhatian.. karena hal ini enggak hanya modal wajah doang, tetapi kemampuan dalam berkarakter sesuai dengan gambaran skenario itu penting.

 

Karena jika pemain tersebut walau dari segi wajah perawakan sesuai dengan yang digambarkan di skenario, tetapi kemampuan dalam beraktingnya kurang bagus, ya tetap nantinya akan menghambat proses produksi.. bisa membuat molor.

 

Jdi urutan pertama itu bukan perawakan melainkan Kemampuan seni beraktingnya.. baru setelah itu postur tubuh atau perawakannya.

 

Walaupun jelas keduanya sangat penting... makannya dibutuhkan casting / penyeleksian pemeran 


Oh iya, hal ini juga yang menjadi dasar adanya perjanjian pemeran / kontrak yang biasanya ada sanksi perihal kerugian yang ditimbulkan jika pemeran terpilih tidak dapat menyelesaikan kontrak dengan baik.


Karena memang casting sendiri tidak main main asal ganti pemain..  apalagi jika sudah berkaitan dengan produksi profesional yang sudah melibatkan tim publisher yang memiliki brand yang kuat.





Reading dan Rehearsal Talent

 

 

Setelah casting dan mendapatkan pemeran yang sesuai, langkah selanjutnya memantapkan pemeran dalam cerita ( reading and rehearsal talent )

 

Pada tahapan Reading ini tuntutan utama bagi pemeran adalah dapat membawakan dialog yang pas dengan skenario, termasuk mimik wajah dan , dialek / logat bahasa, dan sebagainya.

Sedangkan tahapan rehearsal ini, pemeran harus menguasai blocking sesuai yang diminta oleh sutradara, jadi jika memungkinkan berlatih di lokasi sebelum pengambilan gambar.


jika memungkinkan, pemeran yang terpilih bisa di kumpulkan dalam satu tempat khusus untuk dapat beradaptasi satu samalain dengan pemeran lainnya dan dapat fokus pada film yang akan mereka bintangi.

 

 


Menentukan Lokasi

 

 

Ini masih masuk dalam tahapan Pra Produksi, yaitu pemilihan lokasi yang sesuai dengan script skenario. Boleh jadi juga ini menggunakan teknologi greenscreen dengan proses syutingnya di studio yang disetting dengan menggunakan greenscreen untuk nantinya diberikan footage lokasi sesuai yang digambarkan atau diinginkan dalam script.

 

Ini juga bisa jadi pertimbangan sutradara, misalnya film fiksi yang jelas memerlukan banyak teknik ini, karena lokasinya yang perlu dimanipulasi sehingga dapat sesuai dengan gambaran yang ada di skenario.

 

Bisa juga dalam situasi tertentu, misalnya karena adanya Event tertentu yang menyebabkan perijinan lokasi itu tidak memungkinkan untuk syuting.. maka bisa menggunakan teknik greenscreen dengan catatan ada footage video yang telah disediakan / setidaknya footage itu bisa dibuat sebagai ganti dari lokasi yang kesulitan mendapatkan ijin tadi.


Pemilihan lokasi sendiri juga harus mempertimbangkan sumber daya yang ada, misalkan membutuhkan sumber energi seperti listrik, dan kemudahan untuk logistik, konsumsi bagi setiap kru pelaksana produksi nantinya.




Penyiapan Perangkat Produksi

 

Ini juga masih dalam tahapan pra produksi ya, jadi kita menyiapkan dan melakukan pengecekan terhadap perangkat perangkat yang ada dan akan digunakan untuk produksi. 

 

Jangan sampai karena lalai tidak melakukan pengecekan, pas saat produksi berlangsung alatnya mati, dan untuk pengadaannya membutuhkan waktu yang lama, sehingga hal itu bisa menghambat atau menurunkan kualitas produksi, 


Jika ada yang kurang baik, silahkan langsung dicarikan solusi, bisa juga dengan langsung melakukan pengadaan alat yang baru.


Karena penyiapan perangkat jauh jauh hari, akan membuat proses produksi nantinya berjalan sesuai dengan rundingan di awal draft.

 

 


Briefing Produksi

 

 

Hampir setiap pekerjaan itu ada yang namanya briefing..

 

Briefing itu apa kak? sebenarnya briefing itu persiapan pra kerja, jadi kayak pemanasan dulu... kalo tadinya dingin.. dipanaskan dulu, seperti halnya motor di pagi hari sebelum dipakai.. agar mesin nantinya dapat berjalan dengan baik.. tidak kaget!


Jadi intinya disini setiap kru saling beradaptasi ..  oh iya ini masih masuk kedalam tahapan pra produksi ya sob..


Target utamanya adalah agar tim dapat memahami cara kerja masing masing , wewenang, tanggung jawab dan batas kerja nya agar tidak saling tumpang tindih.. 


memang sih membantu itu adalah perbuatan baik.. tetapi kalo job utama sudah selesai ya... kalo belum ya fokus dulu pada wewenangnya...kalo tidak memungkinkan membantu ya jangan dipaksakan.. karena bisa jadi niatnya bagus, tapi malah dapat mengacaukan karena wewenangnya belum selesai..


Jadi harus sesuai intruksi sutradara sebagai pemimpin produksi agar  enggak dualisme kepemimpinan.


oke..





Shooting

 

Shooting ini sudah masuk ke tahapan produksi, setelah tadinya kita bergeliat di tahap pra produksi.. sekarang saatnya action! 

Kenapa sih butuh pra produksi? tinggal rekam aja kan bisa?

semua yang sudah terkonsep itu hasilnya lebih maksimal sob, artinya enggak ngalor ngidul..


Proses produksinya pun tak banyuak membuang waktu, walau kadang kita gak tau kejadian dilapangan, bahkan yang udah di konsep pun bisa molor.. apalagi yang enggak..

 


Hal ini saya juga sudah coba di channel youtube RahmanCyber NET, semacam trial gitu ya.. artinya disitu saya enggak ngonsep, jadi langsung aja action, videonya jadi panjang, ngalor ngidul, dan banyak informasi tak berbobot yang membingungkan untuk di ketok di proses editing.. hehe, terbukti juga ratensi penontonnya yang buruk.. Tapi beda jika sudah buat poin poinnya seperti ketika presentasi Tugas akhir pas kuliah.. ini semacam outline..

 

*kalo di pembuatan film jelas berbeda..


Iya memang ada view, tetapi ratensi atau durasi tontonnya rendah.. bisa jadi penonton hanya skip skip dan skip.. ini diluar pembahasan.. 


 

kita sedang bahas pembuatan film.. bukan pembuatan video review!


oke lanjut, di pembuatan film itu enggak hanya orang pakaian bebas udah langsung shooting.. enggak


Propertipun diatur dalam skenario supaya benar benar menyampaikan ide cerita.. bahkan "baju / pakaianpun diatur"


dan itulah pentingnya pra produksi, semua sudah dipersiapkan..




Evaluasi Kerja Produksi

 

Nah proses selanjutnya setelah syuting /produksi adalah evaluasi.. 

 

seperti halnya pekerjaan pekerjaan lainnya, tahap produksi film pun butuh yang namanya evaluasi, jadi dengan adanya evaluasi ini.. kru dan yang terpenting sutradara tahu, apakah apa yang diambil di proses produksi sudah sesuai? apakah ada kesalahan.. dan kendala apa yang dialami..

 

jika proses produksi itu memakan waktu berhari hari.. hal ini dapat dijadikan evaluasi untuk hari berikutnya agar tidak melakukan kesalahan yang sama.

 

Jika ternyata ada kesalahan dalam pengambilan scene.. dihari itu bisa langsung di ulangi, atau bisa dijadikan PR untuk hari berikutnya jika sudah terlalu larut.

 

"Seni mengatur orang banyak itu lebih sulit, tetapi sebelum mengatur orang banyak, diri sendiri harus teratur dulu..." itulah sutradara..

 

Jadi enggak mungkin orang yang berantakan jadi sutradara, semua ada tahapan..

 

kalo kamu bercita cita jadi sutradara..

 

Amati dulu, atau belajar dari pengalaman orang lain yang tentunya sudah menjadi sutradara..

 

dan sebenarnya pelajaran yang paling mengena itu bukan teori.. tetapi langsung dilapangan, artinya.. kamu bisa mulai menjadi orang yang diatur dulu..

 

lalu kamu amati teknik tekniknya, terutama dalam memanajemen sebuah project, dalam berhadapan dengan kru produksi..

 

Lalu dari situ kamu tidak harus sama dengan dia.. tiap orang punya cara dan enaknya sendiri sendiri.. dari situ kamu bisa belajar..

 

The True of You! jadi kalo jadi sutradara ya sutradara dengan karaktermu sendiri... 

 

 

 


Editing

 

Nah ini dia.. kita dihadapkan dengan kegiatan pasca produksi atau ketika produksi sudah selesai ya.. hehe, tapi sebenarnya ini merupakan tahap akhirnya produksi / masih dalam rangkaian proses produksi..

 

Dan Pasca Produksi sebenarnya adalah ketika Proses Produksi itu sudah selesai di tahapan OUTPUT Film / ketika renderan video hasil editing di pack sedemikian rupa menyesuaikan dengan format Output untuk penayangan film nantinya.. 


mau ditayangkan dimana, di Bioskop? di Stasiun Televisi, atau di Kanal Youtube? formatnya bisa saja berbeda tergantung dengan teknologi output yang digunakan.



Proses editing ini sebenarnya bukan sekedar memilih gambar dan menggabungkan sesuai dengan skenario saja, melainkan juga pemberian efek visual pendukung jika diperlukan, pewarnaan / coloring, pemberian sentuhan seni, misalnya bisa juga transisi, kecepatan kelambatan video, teknik L Cut J Cut, Teknik B Roll, pemberian sound effect, editing suara, jika ada objek mengganggu hilangkan, pencahayaan dan jika memerlukan visual 3D atau CGI ini bisa berkolaborasi dengan ahli di bidang CGI...


Apa itu CGI bang? Computer-Generated Imagery, itu kepanjangannya.. dari pemahaman saya pribadi CGI itu merupakan Manipulasi Gambar dengan Teknologi Komputer untuk memberikan sentuhan seni Visual.


Contohnya kamu bisa lihat film Habibi Ainun 3.. disitu memakai CGI.


JADI ENGGAK SESIMPEL YANG KAMU BAYANGKAN KHAN?


hehe, edit cut cut render.. :D


Makannya kita harus mengenal nih konsep Wang Sinawang.. agar kamu tidak mudah merendahkan Pekerjaan orang lain.. D

Jika itu terjadi, kamu tipe orang yang hanya ngeliat hasil doang..  tanpa mau tau Proses untuk mencapai hasil itu..


Kamu liat orang orang yang sudah sukses? terinspirasi?


Kamu minder?


Ya kamu minder karena kamu hanya fokus pada hasil... coba lebih melebar lagi.. kamu coba telusuri prosesnya..


Bahkan musisi pun juga banyak yang memulai karinya dari nol.. dan bisa sukses, lagunnya dinyanyikan banyak orang dan musiknya jadi trend itupun juga ada prosesnya yang kadang diwaktu tertentu barulah dibuka ke publik.. hehe



So... enggak relevan ya? kita kan bahas bagian editing..?


hehe


Saya pernah dapet nasehat gini


"Jangan menyepelekan kemampuanmu sendiri cuman karena kamu begitu menguasai kemampuan itu, bisa jadi orang lain tak bisa melakukannya.."




 


Penayangan Film Perdana


 

Biasanya sih ada yang namanya penayangan film perdana.. jadi semacam premiere..

setelah proses produksi, sebenarnya tidak berhenti disitu.. hehe, Ada proses yang dinamakan Distribusi.


Pra Produksi - Produksi - Pasca Produksi - Distribusi


Sedangkan Editing Video lebih cocok sesuai litelatur yaitu masuk kedalam tahapan Pasca Produksi, karena disitu nantinya ada kolaborasi juga, misalnya dari Sound Engineer, Visual Effect, 3D Animation, Titling dan lainnya yang terlibat dalam proses Akhir Pembuatan Film yang bisa disingkat menjadi PASCA PRODUKSI.


Sedangkan untuk penayangan film dan marketing film, memotong jadi teaser atau trailer.. itu masuk dalam distribusi ya teman teman...







 

 







Semoga tulisan ini bermanfaat.






Footer ini sengaja tidak saya hilangkan.. untuk kenang kenangan bahwa ini salah satu tulisan di masa lalu...




RahmanCyber Tutorial
Redaksi yang menulis berbagai Tutorial Berguna
http://www.rahmancyber.net
Facebook : /rahmancyber | Twitter : @RahmancyberNet


Advertisement
Sobat, ditempat ini kita belajar bareng ya, saling berbagi ilmu di http://rahmancyber.net Apabila ada yang perlu di tambahkan atau ada kesalahan mohon di koreksi
Bagi yang menginginkan konten berupa video, bisa langsung kunjungi link Channel Youtube RahmanCyber NET
Matur Nuwun...

Sponsor Rahmancyber Network



Baca Juga

Posting Komentar

Follow by Email

Whatsapp Button works on Mobile Device only